Pagi itu cuaca memang masih tampak mendung, masih enak melingkar di tempat tidur dan tenggelam dalam gulungan kain selimut yang tebal. Ginny masih larut dalam mimpinya semalam yang seolah tampak nyata dan hidup. Rasanya tidak ingin segera sadar dari tidurnya karena dia ingin mengikuti jalan cerita dalam mimpinya itu dan berharap akan menemukan suatu kejutan menarik di akhirnya. Tadi malam memang hari yang cukup melelahkan dengan semua kegiatan yang dia alami seharian yang membuatnya terkapar di tempat tidur dan tak lama untuk membuatnya benar-benar tak sadar dan hanyut dalam bunga mimpi yang tiba-tiba melintas itu.
Ginny sedang tidak memikirkan sesuatu yang sangat dia ambisikan untuk terjadi yang membuat kita kadang bisa memimpikan harapan-harapan kita. Kejadian dalam mimpinya memang kejadian sehari-hari yang sering dia alami layaknya anak-anak sekolah lainnya. Dia sedang berjalan melewati koridor di Hogwarts bersama dua temannya menuju kelas Snape. Tentu saja ini awal mimpi yang tadinya dia pikir mimpi buruk. Tapi kejadian selanjutnya sungguh diluar dugaan. Tepat sebelum memasuki pintu kelas Ramuan, selembar perkamen ditempel di pintu yang ternyata merupakan pengumuman dari Prof. Snape bahwa pelajaran Ramuan hari itu dibatalkan karena beliau sedang menghadiri seminar penting bersama Prof. Dumbledore ke Malang, salah satu wilayah di negara kecil yang mungkin kau bahkan belum pernah mendengarnya.
Tentu saja ini membuat Ginny dan dua temannya girang sampai berteriak menggema diantara koridor yang tadinya sunyi senyap karena memang pada saat itu merekalah yang datang paling awal. Dengan cepat mereka kembali menelusuri jalan yang tadi mereka lewati dan setiap berpapasan dengan temannya yang akan menuju kelas yang sama pengumuman itu segera menyebar dengan cepat.
Sesaat Ginny berpikir akan kembali ke Ruang Bersama asramanya, namun dia berubah pikiran ingin berjalan-jalan di sekitar Danau Hitam. Luna dan Helga, dua temannya tadi kurang tertarik untuk sekedar jalan-jalan dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke asrama saja. Akhirnya Ginny pergi ke Danau Hitam sendiri. Menelusuri lorong Hogwarts yang panjang dan berliku-liku. Entah kenapa dia memutuskan pergi kesana. Namun segera dia merasa takdirnya hari ini memang bagus karena di ujung lorong Hogwarts di bawah pohon eak besar nan rindang, Harry sedang duduk membaca buku yang kelihatannya seperti salah satu buku Herbology.
Yah Ginny masih punya rasa pada Harry meski dia berusaha setengah mati untuk bersikap biasa saja di depan Harry terutama di depan kakaknya yang cerewet, Ron Weasley. Perasaan itu sebenarnya pernah dikuburnya dalam-dalam setelah tahu bahwa Harry merasa Ginny sudah seperti adiknya sendiri. Bahkan sampai saat ini Ginny berusaha untuk mengikis dalam-dalam perasaan itu karena dia tidak ingin tampak perlu dikasihani (kata-kata yang sangat tidak ada dalam kamusnya) atau bahkan lebih parah? Desperate?
Namun tetap saja tidak menghilangkan raut mukanya yang tampak exciting saat menyapa Harry,
“Hi Harry, apa yang kau lakukan disini sendiri? Mana si cerewet itu dan Hermione? Biasanya kalian selalu bertiga? Tumben banget baca buku Herbology disini?”
Ginny menanyakan ini hanya dalam satu nafas dan langsung menghempaskan tubuhnya duduk di salah satu akar besar yang terdekat dengan Harry.
“Oh, hi Ginny. Nggak, waktu praktikum pelajaran Herbology kemaren aku merasa pernah menemukan tanaman yang ada di buku hidup di sekitar wilayah ini. Kau tahu? Tanaman itu-berdasarkan buku ini- jika di ramu dengan benar dan diminum sarinya, bisa membantu mengencerkan otak! Hahaha.. aku kan ingin sedikit berotak agar tidak terus bergantung pada Hermione”
“Whats? Tanaman yang bisa mengencerkan otak kalo di ramu dengan benar dan diminum sarinya?? Kau bercanda kan Harry? Kalau ada tanaman semacam itu, kita kan tidak perlu bersekolah di Hogwarts untuk menjadi Profesor? By the way, apa sih nama tanamannya? Kau membuatku penasaran”
Ginny menarik buku yang ada di pegangan Harry. Membaca sekilas dan menemukan apa yang dicarinya. Tanaman itu bernama latin Synchronocaus Branicialus. Namanya kedengaran seperti diambil dari bahasa inggris, bentuk tanamannya juga agak aneh, menyerupai otak kiri kalau kau pernah melakukan praktikum biologi membelah kepala tikus di dunia muggle. Warnanya agak merah muda dan permukaannya ada sedikit bulu-bulu lembut. Sementara Ginny masih belum yakin apakah itu bunga atau daunnya, Harry sudah merebut kembali bukunya.
“Itulah, kau tidak akan yakin sampai kau pernah benar-benar melihat jenis tanaman ini yang aku yakin pernah aku dapati tumbuh di sekitar tempat ini. Yaah saat itu aku sedang memikirkan cara menghadapi ujian pertama dalam turnamen triwizard, kau ingat? Oh tentu saja tidak karena saat itu aku bersama Ron serta Fred dan George yang akhirnya memutuskan untuk main Quidditch (dengan aturan main yang dibuat sendiri karena hanya ada 4 orang) saja saat itu”
“Dan saat aku menukik untuk menangkap snitch tiruan yang dibuat Fred, di daerah sekitar ini, aku melihatnya. Kau tidak akan berpikir untuk bisa melupakan bentuk dan warna tanaman itu karena ini sangat jarang kita temukan, yaa meskipun aku akui banyak makhluk aneh di sekitar Hogwarts. Tapi aku yakin pasti kau juga akan berpikiran sama tentang tanaman ini”
“Jadi kalau kau memang tertarik juga untuk menemukan tanaman ini, karena aku yakin kau juga ingin bisa mengikuti pelajaran Snape tanpa harus kena detensi karena gagal membuat ramuan anti jerawat atau meledakkan kuali karena salah memasukkan bahan ramuan, mulailah bantu aku mencari dimana tepatnya tanaman itu tumbuh. Gimana menurutmu?”
Tidak perlu bertanya dua kali untuk membuat Ginny segera meraba-raba semak di sekitar mereka untuk mencari jenis tanaman yang mirip dengan gambar tanaman yang ada di buku.